Minggu, 09 Februari 2020

"KEKELUARGAAN"
I. PENDAHULUAN

Saudara-saudara hadirin yang kami muliakan ,

Sebagai pengasuh utama “KEKELUARGAAN” maka dengan sendirinya saya bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan keseluruhan ajaran-ajaran saya, lahir batin, dunia akhirat, yang telah saya berikan kepada para warga “KEKELUARGAAN” yang hingga kini telah tersebar dan berkembang di nusantara kita.

Sebagai pendahuluan, maka perlu saya memberikan sekedar uraian untuk mengungkapkan ajaran-ajaran “KEKELUARGAAN”.

Kita sekarang ini hidup di dalam alam revolusi, ialah Revolusi Indonesia yang beraneka ragam.

Salah satu dari hukum revolusi adalah menjebol dan membangun, mengadakan perombakan total secara menyeluruh,dan yang terpenting dalam perombakan itu adalah: perombakan mental.

Justru pada saat sekarang ini dan pada forum ini, kita berkecimpung untuk mempersoalkan mental, yang disorot dalam sudut kebathinan, kejiwaan dan kerohanian.Kesemuanya itu adalah bersumber pada: CARA BERPIKIR MANUSIA. Dalam pengertian perombakan cara berpikir inilah maka kita menentukan istilah:
Idjtihadj ialah berjuang untuk kebebasan berpikir.

Dasar “KEKELUARGAAN” adalah Al Qur’an dan Al Hadist.

Ajaran-ajaran “KEKELUARGAAN” adalah hasil dari pada penggalian, idjtihadj, dialog dari apa yang tersurat dan tersirat pada Al Qur’an dan Al Hadist.

Pelaksanaan pemberian ajaran-ajaran bagi para warga, didasarkan atas pemberian pengertian yang mutlak (sesuai dengan pikir dan rasa), yang menjadi patokan yang kokoh, untuk pelaksanaan pengamalan Kebesaran-kebesaran Tuhan kepada sesamanya, sebagai pengabdian kepad Tuhan Yang Maha Esa.

Ajaran “KEKELUARGAAN” ini dimulai pada tahun 1951 dan terus berkembang pesat hingga sekarang.

Sehubungan dengan urain di atas maka hadirin pada kesempatan ini akan menemukan pengertian-pengertian yang baru, pengertian mana justru menjiwai serta menjadi patokan-patokan yang kokoh dan teguh bagi ajaran-ajaran “KEKELUARGAAN”.

II. SIMBOL “KEKELUARGAAN”

1. Warna dari corak simbol
Uraian tentang makna dan arti simbol “KEKELUARGAAN”
Pada symbol “KEKELUARGAAN” tersebut tedapat 3 (tiga) macam warna:
 Warna hitam, sebagai dasar menunjukan tanda luhur.
 Warna kuning-emas, menunjukan tanda kebesaran, dengan ini tertulis (arab) “Allah” yang terletak di tengah-tengah symbol.
 Warna putih, menunjukan tanda kesucian.
Dengan warna tersebut digambarkan:
Pertama, garis-garis dari delapan sudut diseling dengan garis-garis kecil (lima) buah. Garis-garis putih ini dimaksudkan: cahaya, yang mengartikan menjurus ke luar maupun ke dalam. Kedua, huruf-huruf latin, nama: “KEKELUARGAAN”.

2. Arti dan corak simbol
Arti dan corak simbol “KEKELUARGAAN” adalah sebagai berikut:
 Cahaya yang menuju ke dalam artinya: “ Setiap warga “KEKELUARGAAN” dari delapan penjuruangin menuju ke arah Yang satu, ialah Allah ”.
 Cahaya yang menuju ke luar artinya: “ Setiap warga “KEKELUARGAAN”berkewajiban membawa Kebesaran Nama Tuhan atau Nama Allah kepada sesamanya, ialah dengan kasih sayang ”.
Dari penjuru ke penjuru di dapat 5 (lima) garis-garis yang diberikan makna dalam pengamalan dan syari’at sebagai berikut:
 Menjurus ke dalam, ialah: rukun islam yang lima, yaitu menuju ke arah Yang satu,ialah Allah: tiada sesembahan lain, semata-mata hanya Allah.
Dengan syarat rukun yang lima itulah , setiap warga “KEKELUARGAAN” diharuskan hidup rukun, merukunkan dan dirukunkan atau hidup bersatu mempersatukan dan dipersatukan, karena syarat untuk menjadi rukunnya umat Islam seluruh dunia itulah rukun Islam yang lima.
Ajaran “KEKELUARGAAN” adlah ajaran Islam, dengan kitab-kitabnya: Al Qur’an dan Al Hadist.
 Menjurus ke luar, ialah:Membawa kebesaran Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia, jelasnya: bahwa “KEKELUARGAAN” adalah berkepribadian satu Indonesia dan membawa pengamalan kebesaran-kebesaran bangsa, Negara bersumber pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Menghargai, menghormati, dan sapat bekerja sama dengan penganut-penganut agama lain.

3. Arti dan makna warna simbol
Arti dn makna simbol “KEKELUARGAAN” adalah sebagai berikut:
 Pertama : Warna Hitam adalah tanda luhur, yang diartikan adanya sebuah hukum “KEKELUARGAAN” ialah bahwa setiap warga “KEKELUARGAAN” harus mempunyai atau memupuk Budi Luhur.
 Kedua : Warna Kuning-Emas adalah tanda kebesaran yang diartikan,bahwa ajaran “KEKELUARGAAN” bersumber pada penggalian kebesaran-kebesaran yang Serba Maha.
 Ketiga :Warna Putih adalah tanda kesucian,dalam arti bersih dari segala macam kotoran, yaitu:
 Menuju kearah Allah tanpa diembel-embeli, umpamanya dengan perantaraan benda-benda,roh-roh dan lain-lain.
 Mengamalkan segala sesuatu Kebesaran Allah dengan rasa tulud ikhlas.

III. KERANGKA PENGERTIAN (DEFINISI) ALLAH

1. Allah adalah Nama Perwujudan
Kebatinan, kejiwaan dan kerohanian, ini semua tidak terlepas dari soal Ketuhanan, karena:
Tuhan ( Allah ) sumber dari segala sesuatu;
Tuhan Maha Tahu;
Tuhan Maha Bisa;
Tuhan Serba Ada;
Tuhan Pengasih, Penyayang dan Pengampun.
Pengertian-pengertian “KEKELUARGAAN” tentang Allah, atau jelasnya: KONSEPSI TENTANG TUHAN ATAU ALLAH.
Pengertian dasar Tuhan, ialah sesembahan = yang disembah = yang diagungkan.
Tuhan saya adalah Allah, artinya:
Pertama : Yang saya sembah adalah Allah
Kedua : Yang saya agungkan adalah Allah
Ketiga : Tempat saya meminta dan mengabdi adalah Allah
Disini kita dapat merasakan, bahwa istilah atau nama Allah sebagai suatu nama “ALLAH” yang menjadi tujuan.
Allah sebagai suatu Nama dan Allah sebagai suatu Perwujudan. Nama adalah suatu sebutan dari suatu perwujudan, abstrak maupun kongkrit. Tiap-tiap perwujudan harus mempunyai Kerangka dan Batas-batas.

Jika ada seseorang yang menyebutkan nama, akan tetapi ia tidak dapat memberikan kerangka pada nama itu, maka pengetahuannya akan nama yang disebutnya itu hanya khayalan atau kira-kira belaka, pengertian ini juga dapat dijadikan ukuran keimanan terhadap apa yang diketahuinya, apalagi yang ia yakini.

Kita menyebut Nama “Allah“, kita sama-sama yakin adanya Allah. Maka kita harus dapat membuktikan dan dapat memberikan kerangka pada nama “Allah” tersebut.
2. Arti perkataan “Allah”

Di dalam sastra arab pernah kita temukan uraian sebagai berikut:
Ilah artinya Tuhan, berarti sesembahan atau Yang Disembah.
Allah berasal dari kata-kata: Al dan Ilah, yang disingkat menjadi Allah, yang berarti Maha Sesembahan.

Dengan demikian maka Allah adalah sesembahan yang tertinggi ialah sesembahan yang ada di dalam dan bagi/untuk hidup, kehidupan dan penghidupan. Allah adalah tempat pengabdian diri segala makhluk. Dengan pengertian pendahuluan ini, maka saya akan menguraikan tentang konsepsi tentang Allah dengan pengertian-pengertiannya yang di tinjau dari berbagai sudut, sesuai dengan alam pikiran “KEKELUARGAAN”.

Saya bermaksud dan beriktikad menguraikan Konsepsi tentang Allah ini kepada:
A. Hadirin yang saya muliakan sekarang ini

1. Yang mewakili tentang Ormas-Ormas Kebathinan/Kejiwaan/Kerohanian dan tergabung pada Pakem (Penganut Aliran Kepercayaan Masyarakat) Kejaksaan Tinggi Jakarta;
2. Pemerintah Republik Indonesia lewat Pakem Kejaksaan Tinggi Jakarta dan Para Pejabat Pemerintahan yang berwenang;
3. Para alim ulama dari golongan agama yang disyahkan pemerintah.

B. Nusa Bangsa dan Negara pada Umumnya

C. Umat Islam pada Khususnya

Saya akan coba menguraikan dengan kata-kata yang sesederhana mungkindengan bantuan kerangka atau huruf (arab) “Allah” yang terpapar di depan hadirin semuanya ini.(lihat gambar simbol)

Bagi alam pikiran “KEKELUARGAAN” di dalam idjtihadj-nya, maka kerangka susunan atau tulisan (arab) “Allah” itu merupakan suatu kerangka yang mempunyai arti dan makna serta daya hidup dan yang menghidupkan.
Segala sesuatu yang menyangkut tentang hidup, kehidupan dan penghidupan dapat dicarikan dasar hukumnya dan tergantung pula pada pemikiran kewaspadaan terjurud dari penyorotannya.

3. Dzat, hidup dan 4 unsur-unsur pokok perwujudan, (evolusi kejadian)

Untuk mempermudah kita berbicara tentang apa yang tidak, mari kita mencari jalan dari apa yang ada ialah, Alam Penerangan tentang adanya Alam ini menurut Al Qur’an surat Yunus ayat 3 (10:3) berbunyi:
“Sesungguhnya Tuhan Kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi Syafa’at kecuali sudah ada, izin dari yang demikian itu adalah Allah, Tuhan Kami, maka sembahlah Dia, Apakah kamu tidak mengambil Pelajaran”.

Ternyata dari penerangan ayat tadi, bahwa alam ini terjadi tidak dengan kata-kata “kun” sekali jadi terus berwujud, tetapi dalam Enam hari. Enam hari inipun tidak berarti Enam Hari Letterlek, tetapi Enam Fase (tingkatan atau tahapan) yang berate ber-evolusi.

Jadi sebelum alam ini ada, yaitu masih awing-awang atau kosong yang ada ialah Dzat ysng tidak seumpama apapun juga.(lihat jabar)
Sebelum ada apa-apa di alam ini, yang ada ialah Dzat: Dzat yang tiada seumpama apapun juga, pengerian ini umumnya sudah di luar batas pikiran manusia, dan kita mau tidak mau harus percaya.

Dzat yang tidak seumpama apapun juga ini. Ada dengan sendirinya dan terjadi dengan sendirinya. Dzat yang tidak seumpama apapun pula, yang ada dengan sendirinya dan jadi dengan sendirinya itu dan mengadakan HIDUP.(lihat Tasjid)

Karena adanya hidup, maka terjadilah adanya gerak atau getaran. Kesemuanya ini masih gaib.

Getaran ini Hidup terus dan menimbulkan cahaya: Merah (alif)
Setelah cahaya merah, timbul cahaya: Kuning (lihat Lam awal)
Setelah cahaya kuning, timbul cahaya: Putih (lihat Lam akhir)
Setelah cahaya putih, timbul cahaya: Hitam (lihat Ha)

Cahaya-cahaya tersebut telah dimengertikan unsur-unsur pokok dari setiap perwujudan dalam alam hidup ini.

Merah diartikan : unsur Api
Kuning diartikan : unsur Angin
Putih diartikan : unsur Air
Hitam diartikan : unsur Bumi


4. Allah dan Makhluk Allah

Keempat cahaya tersebut (lihat Alif, Lam, Lam, Ha) yang saling berbenturan karena adanya gerak dan getar (lihat Tasjid) dengan diliputi oleh Dzat Yang Hidup (lahat Jabar) keseluruhan itulah menjadi suatu perwujudan yang dinamakan: Allah (lihat huruf Allah).
Jadi dari Dzat yang tiada seumpama apapun juga (jabar) sampai dengan apa yang kita lihat dan berwujud ini (Allah) adalah satu.
Tidak dan ada adalah satu: inilah yang dinamakan Allah. Jelasnya, seluruh alam ini adalah perwujudan dari yang tidak.

Saudara-saudara,

Kita semua ini adalah perwujudan dari pada Dzat dan Gerak/Getaran dari empat unsur. Itulah menjadikan satu perwujudan inilah yang di katakana, bahwa Tuhan dengan kita tidak ada antaranya lagi; “Urat Leher dan Leher”.
Dengan adanya pembentukan 4 unsur ini,terjalah alam seluruhnya dan terjadilah makhluk hidup mulai dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi. Benturan-benturan maupun perpaduan-perpaduan 4 unsur iniada tingkatan-tingkatannya, dan demikian pun perwujudan-perwujudan ada tingkatan-tingkatannya; dari makhluk-makhluk yang terendah tingkatannya sampai dengan makhluk-makhluk yang tertinggi, yaitu manusia.

Penjelasan dengan kata-kata yang lain:
Dari yang tidak (jabar ) lalu menjadi gerak/getaran (tasjid)
Dan karena gerak/getaran itu,menimbulkan empat cahaya yang kita beri nama: Api, Angin, Air, Bumi, (Alif, Lam, Lam, Ha).
Empat cahaya adalah empat Unsur Pokok. Yang sebenarnya adalah Empat kekuatan pokok yang ada terdapat dalam Hidup.
Karena adanya Gerak/Getaran, maka berbenturan empat Kekuatan Pokok ini dan timbul suatu perwujudan, Allah namanya (lihat huruf arab “Allah”).
Surat Al Baqarah ayat 115 (2:115);
“Maka kemana pun kami menghadap, disitulah wajah Allah”. Wajah Allah ialah Perwujudan Allah yang kita lihat dan kita temukan. Yang tidak ada dan yang ada adalah merupakan satu kesatuan dan persatuan yang Mutlak, Allah namanya.

Dan dari perwujudan yang kita jumpai dalam hidup, kehidupan dan penghidupan, ialah tidak lain manusialah makhluk yang paling tertinggi itulah yang dikatakan: kita dengan Tuhan tiada antaranya lagi.
Jika diumpamakan, Dzat yang tidak seumpama apapun juga itu: Air, maka kita (perwujudan-perwujudan ini) adalah: Es.
Jadi kita ini adalah pembekuan dari Dzat
Hidup kita adalah Gerak atau Yang Hidup atau Hidup.
Gerak ini digerakan oleh benda yang tidak bergerak, ialah Dzat.
Antara yang tidak bergerak dan yang bergerak adalah satu kesatuan dan persatuan.

Jadi seluruh ala mini adalah SATU PERWUJUDAN atau lebih tegasnya lagi SATU PEMBEKUAN dari TIDAK, diantara mana tidak ada batas-batas pemisah sedikit pun juga dengan yang ADA. Kesemuanya ini adalah suatu perwujudan daripada Allah (secara keseluruhan maupun tersendiri), karena asalnya dari TIDAK menjadi ADA.
Kita ini (perwujudan secara tersendiri), menurut ajaran agama adalah Makhluk Allah.

Makhluk manusia adalah perwujudan yang tertinggi dari setiap adanya perwujudan dalam hidup. Kehidupan dan Penghidupan, seperti yang diterangkan dalam surat: Al Maidah ayat 3 (5:3) “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kami agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu”.

Dalam pandangan kita yang meluas kepada MACRO-COSMOS,maka dapat saya berikan pengertian:

Allah adalah suatu perwujudan yang ada di dalam wadah yang tidak bertepi dengan Dzat-Nya yang meliputi.

Jika panduan kita menuju pada MACRO-COSMOS, terutama kepada diri sendiri, maka kita hendaknya kembali pada pengertian hakekat Tauhid ialah: ” Bahwa setiap perwujudan adalah perwujudan Allah”.

Pengertian akan hakekat Tauhid tersebut adalah dapat dijadikan dasar mutlak bagi pemberian pengertian akan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Demikian secara singkat pengertian atau konsepsi tentang Allah dan “Kekeluargaan”, di tinjau dari sudut Hidup.

Para pujangga Arab telah menentukan (dengan karunia Allah), kerangka atau tulisan Allah dengan susnan huruf-huruf Arab. Kerangka atau susunan huruf (Arab) Allah tersebut tidak akan berubah sepanjang jaman, karena makna, arti dan daya yang memancar dati kerangka tersebut mempunyai suatu daya adanya kesatuan hukum-hukum Hidup, Kehidupan dan Penghidupan.

Umpamanya, Jabar dan Tasjidnya dihilangkan, sisa Alif, Lam, Lam, Ha, ini adalah kerangka yang mati kerangka Hampa yang tidak mempunyai makna, arti dan daya yang Hidup.

Demikian pun jika lerangka tersebut kita terjemahkan atau kita ganti dengan huruf atau bahasa lain, hampa rasanya.

Susunan huruf atau lebih tepat kerangka “Allah” (lihat huruf Arab Allah). Bagi kita semua mempunyai makna , arti dan daya yang Hidup dan Menghidupkan.
Bagi saya khususnya, demikianlah adanya karena saya dapat memberikan penjelasannya tentang penyorotan kerangka itu dari sudut:
 Hidup
 Kehidupan
 Penghidupan
 Lahir-Batin-Dunia-Akhirat
Kesemuanya digali dari apa yang di tersurat dan tersirat pada Al Qur’an dan Al Hadist. Hal ini akan membutuhkan waktu yang khusus dan semoga saya akan berkesempatan untuk berhadapan muka dan berdialog dengan hadirin sekalian de lain waktu.



IV. PENUTUP

1. Wahyu dan Ilham

Saya belum pernah mendapatkan Wahyu karena Wahyu itu tidak ada lagi di dunia ini. Pengertian Wahyu adalah apa-apa yang belum ada di dunia ini, kemudian diadakan.

Tetapi sekarang semuanya sudah sempurna dan komplit, jadi manusia-manusia seperti sekarang ini hanya mendapatkan Ilham dan Petunjuk-petunjuk yang mereka belum pernah dapatkan, tetapi sebenarnya sudah ada di dunia inilah pengertian-pengertian perbedaan Wahyu dan Ilham.

Dengan demikian, maka Uraian saya tersebut adalah hasil: Idjthadj,yaitu:

Hasi dari penggalian-penggalian dan banyak belajar;
Hasil dari bertanya;
Hasil dari penerima dan memberi dengan sesamanya;
Hasil dari pada dialog dengan Kitab Al-quran dan Al-Hadist.

2. Agama dan Kebathinan

Kita yang berada disini umumnya dikatakan sebagai dari Organisasi Massa (ORMAS) atau keyakinan kebathinan,kejiwaan,kerohanian.semua ini tidak terlepas dengan adanya kebesaran Tuhan.
Sumber segala sesuatu adalah Tuhan; dan yang saya maksud Tuhan ialah Allah sesuai denagn pengertian terdahulu.

Kalau bukan karena Allah semuanya dengan sendirinya tidak dapat mencakup yang seolah-olah kita pisahkan. Semuanya mempunyai pengertian satu, ya bathin, ya jiwa, ya roh.

Kebathinan bukanlah Agama, sedang Agama sudah tentu Kebathinan. Jadi setiap penganut adama denagn sendirinya kebathinan, karena agama adalah; Tuntunan Hidup untuk Manusia “lahir-bathin dunia-akhirat”

Ajaran-ajaran memberi petunjuk-petunjuk kepada Umatnya untuk dapat mencapai;

 Kemenangan Lahiriah,
 Kemenangan bathiniah,
 Kemenangan duniawiah, dan
 Kemenangan Ukhrowiah

3. Pengendalian Hawa Nafsu

Seharusnya dengan pengertian atau konsepsi kita tentang Allah, maka perlu saya sekedar mengungkapkan sepintas lalu cara-cara pelaksanaan ajaran “Kekeluargaan”.

Tidak lepas dari pengertian Allah!
Timbul suatu kebimbangan, kekhilafan, yang secara mutlakmemberi refleksi terhadap diri kita berupa pukulan-pukulan lahir maupun batin, adalah dikarenakan si manusia itu tidak dapat mengendalikan “PERPADUAN ATAU PERBENTURAN EMPAT UNSUR POKOK YANG ADA DALAM DIRI KITA”.

Saya yakin bahwa manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsu yang ada dalam diri itu, dapat juga mengendalikan hawa-nafsu orang lain.

Nama Tuhan atau Nama Allah yang diagung-agungkan, dan orang-orang telah banyak bebicara tentang “Sabda Seucap Nyata”atau”Sabda Pandita Ratu”. Pelaksanaan hal itu, tidak lain dan tidak bukan hanyalah dengan jalan atau dengan cara kita mengendalikan hawa-nafsu yang ada didiri kita sendiri dengan penuh pengertian dan penuh kesadaran.



  • (alm.Bapak Yoesoef Ratman

Sabtu, 08 Februari 2020

Dzikir NaFas

ZIKIR NAFAS HU - ALLAH

NAFAS:
- Mengenal Nafas
- Mengenal Asal usul nya Nafas
- Mengenal Datang nya Nafas 
- Mengenal Reservoir Nafas
- Mengenal Puncak Kedatangnya Nafas
- Menghargai Nafas dengan Haqqul Yakin
- Melihat kedatangan Nafas dari Pandangan Ainul Yakin
- Tarbiyyah diri dengan Muttu Qablaan tammutu (hadits)

Latih mematikan diri:
- Latihlah pergerakan Allah (memulangkan Zat, Sifat, Asma, Af’al Allah) Dengan Muraqabh dan Musyhadah.
- Latihlah Ilmu Allah dengan KALIMAT Syahadah dan Syuhud (Qudrat ”Kuasa”, Iradat” berkehendak”, Ilmu ”ilmu”, Hayat ”hidup”).

Bagi kaum Arifinbillah:
- Nafas adalah Imej cermin dari Roh.
- Nafas adalah kembaran bagi Ruh. 
- Ruh adalah hakikat dan nafas adalah syariatnya di alam ini.
- Ruh ibarat kapal, ombak bagaikan nafas.
- Jika tenang ombak, tenanglah perjalanan kapal. 
- Begitu juga Ruh, jika nafas seorang hamba tenang, maka ia memberi kesan pada ruhnya.

Kaum Arifinbillah dan ahli Rohani amat mementingkan latihan pernafasan. Bila pernafasan baik, maka akan baiklah perjalanan ruh dengan ROBBnya.  Emosi amat mempengaruhi pernafasan, baik ia dalam keadaan marah “stress” atau tenang. Jika seseorang itu berhasil mengawal emosinya maka tenanglah ia. Mereka yang tidak mementingkan rohani adalah seperti jasad yang tiada Roh, mereka amat dibodohi oleh syaitan, apa gunanya sebatang jasad walaupun ia seorang raja, seorang yang cantik dan kaya jika tiada Roh dan Nyawa, maka akan di kebumikan dengan secepat mungkin (mayat namanya). Roh dan kerohanian amat penting dalam memahami pengertian hidup dan perjalanan hidup ini. Nafas berasal dari Robbul Alamin. Bagiamana mengenal turunnya dan naiknya Nafas ini dari sebatang tubuh yang tidak ada hawl dan quwwah? 

Bagaimana ratusan ribu bahkan jutaan makhluk menerima Nafas turun, Nafas naik dengan secara sistematik dan secara teratur tanpa ada gangguan, dan tiada kehilangan satu nafaspun yang terkendala dalam jutaan tahun kecuali jika sudah sampai ajal maut seseorang itu dengan taqdir Nafas dan usia hayyatnya.  Nafas adalah sumber kehidupan, tanpa nafas hancurlah kehidupan. Nafas adalah al-Hayat yang datang dari Tuhan, ia adalah rahasia Illahi. Para ulama sufi mengamalkan zikir nafas untuk pembersihan rohani, manakala para ahli “tenaga dalam” mengamalkan pernafasan untuk mengaktifkan tenaga ghaibnya sehingga dapat melakukan perkara dg kekuatan jasad. Kaum sufi menamakannya sebagai Nasma yaitu gabungan antara Ruh Jasmani dan jasad.

Zikir Nafas adalah lentera pengerak semua sistem rohani dan jasmani. Zikir Nafas adalah merupakan IBU dari segala zikir yang mempunyai banyak keistimewaan yaitu mampu membersihkan segala kotoran dalam dan rohanni. Zikir Nafas ini ada pecahan dan rangkaiannya tersendiri. Pecahan zikir ini ialah zikir Nufus, zikir Tanafas dan zikir Amfas. ~ Keempat-empatnya saling berkaitan diantara satu sama lain. Bermula nafas itu karena anfas, dan hidup anfas itu karena nuffus, manakala hidup nufus itu dengan rahasia dan rahasia itulah merupakan (diri) rahasia Allah. Nufus, Anfas dan Tanafas itu adalah satu perkara yang ghaib ~ yang wujud tanpa dapat dirasa dan dilihat seperti juga nafas.

Adalah kurang etis jika membicarakan sesuatu yang tidak boleh dibuktikan dengan ilmu yakin, ataupun ainul yakin. Karena ini akan menimbulkan fitnah besar kepada pembicaranya kelak. Sudah menjadi ghaib manusia akan menolak sesuatu yang tidak tercapai oleh akal dan ilmunya, meskipun jalan paling baik jika ia mendiamkan diri (tawakuf) disamping belajar untuk memahaminya. Kedudukan Sistem Batin dan Spiritual ini bergerak dengan Kuasa Qudrat yang mutlak dan hanya dapat dilihat dengan mata hati oleh mereka yang telah hidup hati mereka secara zahir dan batin. Tanpa ILMU Matahati memang hati tidak akan terbuka dan hidup, dan tidak akan dapat memperhatikan keajaibaan hati ini. 

Kedudukan Anfas ialah di Hidung. Kedudukan Tanafas di Telinga. Kedudukan Nufus di Jantung, Kedudukan Nafas ialah di Mulut. Anfas, Nafas, Tanafas dan Nufus ini merupakan satu “kuasa” ataupun keadaan yang keluar masuk (bergerak) dalam tubuh seseorang manusia. Apakah insan mudah memahami  pergerakan sistem spiritual dan rohani ini tanpa mengenal Robbnya dan ILLAH nya? Sekali-kali ia tidak akan mengenal Robb nya tanpa ILMU KALIMAH LA ILAHA ILLALLAH. Semua sistem pengerakan Nafas, Anfus, Tanafas adalah satu sistem Unggul dan ajaib yang penuh dengan mukjizat. Tanafas bergerak di telinga, Nufus bergerak dijantung, Anfas bergerak di hidung, sementara Nafas pula dimulut. Diantara keempat unsur ini, Nafaslah yang bisa dirasa dan disentuh serta mudah untuk diyakini (kalau kita membicarakan) karena setiap orang bisa merasakan dengan perasaan zahir. Zikir yang digabungkan dengan teknik pernafasan yang betul, atau disebut oleh ahli Tasauf sebagai zikir nafas, akan memberi kesan yang hebat. Imam Ghazali mengatakan zikir yang dilakukan dengan cara menahan nafas akan mempercepat proses penyucian hati (membakar mazmumah). 

Pernafasan yang betul akan memaksimumkan penyerapan oksigen yang amat penting dalam kehidupan dan kesehatan manusia.  Kekurangan oksigen menyebabkan seseorang mengalami berbagai penyakit seperti kanker, gangguan saraf, leukemia dll. Teknik Terapi Zikir pernafasan: Kita Hendaklah Bersuci Terlebih dahulu. Duduk relaks dengan punggung tegak, lalu amati nafas yang keluar masuk, kemudian ikuti gerak nafas, jangan mengatur nafas, biarkan nafas keluar masuk dengan bebas. Posisi badan tegak, kepala lurus dengan tulang punggung, Sebaiknya bagi Pemula Mata Dipejamkan, mulut tertutup rapat dan lidah sedikit ditekuk diatas (langit-lagit).

Tarik nafas perlahan-lahan dan dalam-dalam, dada digembungkan, perut dikempeskan se-kempes mungkin dan dikeraskan, agar energi yang dibangkitkan besar, dengan penuh perasaan, rasakan seolah - olah energi Ilahi masuk melalui pusat (umbilicus) naik keatas menembus ubun - ubun sampai ke titik omega -titik tak berhingga. Tahan selama beberapa detik agar diproses oleh paru-paru, Tahan napas di bawah pusar, kemudian Energi Illahi yang terang benderang diturunkan kembali ke kepala sampai ke tengah dada dan Keluarkan nafas perlahan - lahan dari lubang hidung. Berarti 1 x putaran nafas sudah kita selesaikan. Penarikan Nafas harus dengan tertib dan juga secara natural tanpa dipaksa  atau pun didesak, sebab hal ini akan gagal menghasilkan satu proses yang mukammil. Kemudian tarik nafas kembali dalam-dalam, tahan selama beberapa detik, dan selanjutnya [ sebaiknya 5-1-5 atau 10-1-10 atau pun 3-1-3],  tarik 3 saat -tahan 1 saat dan lepas 3 saat ] atau ikut kekuatan daya tarikan dan hembusan.

Lanjutkan terapi pernapasan dengan dada tetap digembungkan, dan perut tetap dikempeskan dan dikeraskan. Menarik nafas dengan membayangkan menghirup udara yang bersih dan sehat, lepaskan napas dengan membayangkan membuang penyakit, racun dan udara kotor.  Nafas ditahan agar proses biologis didalam paru-paru berlangsung sempurna, yaitu: oksigen yang diudara diserap oleh paru-paru (secara maximal) dan udara kotor beracun (CO2) dilepaskan ke-udara untuk kemudian dibuang keluar saat melepaskan napas.  (Dengan bernapas biasa maka proses berlangsung tidak sempurna, karena belum sempat terjadi pertukaran secara lengkap, udara sudah dikeluarkan lagi dari paru-paru).

Ketika anda bernafas tepat pada tarikan oksigen, maka yang harus anda fokuskan ialah lafadz "HU (Dia)". baru setelah hembusan nafas maka fokuskan pada lafadz "ALLAH". begitu terus berulang- ulang.  Perlu diingat, bahwa pada lafadz "HU" harus benar-benar anda rasakan, Dia mengalir di pembuluh-pembuluh nadi dan menyebar ke segenap penjuru orangan tubuh.  Pada lafadz "ALLAH" ketika dihembuskan, rasakan bahwa yang diluar tubuh anda tidak lepas dari "Tangan-Nya".  Jika anda ikhlas semata karena Allah, maka anda akan bertatapan dengan- Nya, tentunya bukan dengan panca indera, tapi lebih dari itu. Jika anda ingin tahu metode dzikir nafas walisongo yang lain (kecuali Raden Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati) tinggal membalik "HU" pada hembusan nafas, dan "ALLAH" pada tarikan nafas.

Waktu ingin melakukan zikir nafas kita wajib memulangkan Zat, Sifat, Af’al kita kepada Zat, Sifat, Af’al Allah yang berarti memulangkan segala wujud kita yang zahir kepada wujud kita yang batin yaitu Ruh dan pulangkan wujud Ruh pada hakikatnya Wujud Yang Qadim Zat Allah juga. La maujud illaLlah yang maksudanya adalah tiada yang ada di alam ini pada hakikatnya melainkan Allah jua. Hakikat nafi pada diri kita ialah:

la wujud (tiada yang wujud),  
la qadir (tiada yang Maha kuasa), 
la hayun, la muridun, 
la alimun (tiada yang Maha mengetahui), 
la samiiun (tiada yang mendengar),  
la basirun (tiada yang Maha melihat), 
la mutakalimun fil haqiqah illaLah.

Berkata para Arifbillah, “matikan diri kamu sebelum kamu dimatikan” (Hadits Sohih). Mati disini dibagi empat (4):

1) Mati Hissii yaitu seolah-olah sudah bercerai ruh dari jasad, tiada daya upaya walau sedikitpun jua pada hakikatnya hanya Allah yang berkuasa, kemudian dimusyahadahkan didalam hati dengan menyaksikan kebesaran sifat Jalal dan JamalNya dan kesucianNya.

2) Apa hakikat Asolatu Miraju lil Mukminiin. Miraj yaitu lepas sempurna mematikan diri kita, hendaklah melakukan miraj artinya menaikkan nafas kita melalui alam “Qaba qawsain au adana” yaitu antara kening merasa penuh limpah dalam alam Qudus yaitu dalam benak kepala kita hingga hilang segala ingatan yang lainnya. Ini dinamakan mati ma’nawi yaitu hilang segala sesuatu didalam hatimu melainkan hanya berhadapan pada Allah juga.

3) Mati dalam Hidup dan Hidup dalam kematian, inilah hakikat matilah kamu sebelum kamu di matikan. Mati segala usaha ikhtiar segala daya upaya diri kita hanya kita mendirikan solat dengan melihat pada mata hatinya dari Allah, dengan Allah dan untuk Allah. Dari Allah mengerakkan Ruhaniah, dari ruhaniah mengerakan Al-Hayat, dari Al-Hayat menggerakkan nafas dan dari nafas menggerakkan jasad dan pada hakikatnya itu Allah jua yang menggerakkan semuanya, sebagaimana firmaNya:  “Dan tiadalah yang melontar oleh engkau ya Muhammad Sala Allahu Alaihi Wasalam - ketika engkau melontar tetapi Allah yang melontarnya”. Pada pandangan dzahirnya perbuatan hamba tetapi pada pandangan matahati perbuatan Allah jua.

4) Mati dalam tidur ini adalah satu rahasia marifat dalam hidup yang hanya diketahui oleh para Arif Billah dan Alimbillah, bukan oleh alimbil kitaab. Zikir Nafas adalah Ummul Zikir yang mampu memberi kekuatan Rohanni adalah Zikir Khafi, ini di jelaskan dalam beberapa hadits sohih.  Zikir Nafas adalah sebagai Nur Cahaya yang memancar keseluruh jiwa seorang pengamal Zikir Nafas, besar faedahnya untuk memecahkan kekentalan darah hitam yang berada dihati yang dianggap sebagai istana iblis itu. Selagi istana Iblis tidak terpecah dan hancur musnah Nur Qalbi sebagai penyuluh lampu ma’rifat yang diharapkan itu tidak mungkin diperoleh. 

Nur itu tidak akan bersinar menyuluh kegelapan dalam diri. Kalau pun ia menyala tetapi cahayanya tidak terang. Sabda Rasulullah saw: MAN ARAFA NAFSA FAQAD ARAFA RAB’BAH WAMAN ARAFA RAB’BAH FASADA JASAD. “Siapa yang mengenal dirinya, tentu dia mengenal Robbnya dan siapa yang mengenal Robbnya, maka binasalah dirinya.”. Firman Allah swt: “Dari Allah kau datang kepada Allah kau dikembalikan” (QS. al-Baqarah:156). Apabila Ruh diturunkan kebumi, ia berhajat pada Sifat Iftiqar Allah untuk berfungsi diatas muka bumi ini. Jika tiada Sifat Iftiqar, Ruh tidak berfungsi. Ini disebabkan karena ia memiliki sifat yang suci dan tinggi yang tiada pengetahuan dan kehendak terhadap alam yang rendah (dunia).  Oleh karena itu diperlukan Sifat Iftiqar untuk melaksanakan tugas sebagai khalifah, di kehidupannya dan dunia.

4 Sifat Iftiqar yaitu: 

Sifat Qudrat, 
Hayat, 
Iradat, 
Ilmu.

Sebelum Ruh dimasukkan ke dalam jasad, Allah melapisi Ruh Al-Qudsi dengan lapisan-lapisan sampai ke alam “Mulkiah” yang disebut “Qiswah Unsuriah” yaitu alam Jabarut, alam Malakut dan alam Mulki karena kekuatan Ruh Al-Qudsi dapat menghancurkan jasad, sebagaimana cahaya matahari yang dihalangi cahayanya bumi dengan berbagai lapisan agar tidak terbakar bumi ini karena kepanasannya. Firman Allah swt:  “Lalu kutiupkan Roh-Ku dalam tubuh manusia.” (Al-Hijr:29)

1. QUDRAT (Kuasa): yaitu dinyatakan pada (RUH JASMANI) dan diletakkan dalam jasad. Ruh memerlukan jasad untuk bergerak di atas muka bumi. (NASMA “fizikal”: kuasa batin yang hebat). TANAH: tubuh badan - istana hakikat.

2. ILMU (ilmu): dinyatakan pada (RUH SULTANI) dan menjadi akal apabila digabungkan dengan unsur air dan diletakkan pd otak. Ruh tidak akan dapat berfikir untuk kehidupan didunia tanpa ilmu bangsa dunia. (AIR: akal - ilham, laduni pandangan tajam hikmah). AIR: otak - istana syariat.

3. HAYAT (hidup): ia dinyatakan pada (RUH AL HAYAT) dan menjadi nafas apabila bergabung dengan udara. Ruh memerlukan nafas untuk berhubung dengan nafas. (NAFAS: menstabilkan emosi, akal, kesehatan dan perjalanan Ruh). ANGIN/udara: sistem pernafasan - istana tarikat.

4. IRADAT (berkehendak): ia dinyatakan pada (RUH SAIRANI RAWANI) dan menjadi nafas apabila digabungkan dengan unsur api dan diletakkan dijantung/qalbi. Ruh memerlukan nafsu yang bangsa dunia untuk memakmurkan dunia. (NAFSU: ketenangan, kasyaf, asyik, cinta, rindu, syuhud, makrifat) API: jantung - istana makrifat.

Syaik Abdul Qadir Jailani, Di dalam Kitab Sirrul Asrar mengatakan: Ruh adalah hakikat diri manusia yang sebenarnya. Ruh adalah Nur cahaya yang tinggi yang dibalut dengan beberapa lapisan pakaian sebelum diturunkan ke alam dunia ini agar jasad tidak terbakar. “Manusia itu rahasiaku dan Aku adalah rahsia manusia.” (Hadits Qudsi). Setiap Ruh mempunyai tempat/ daerah ketika ia berada dalam jasad dan Setiap insan wajib mengetahui bagaimana mengolah setiap lapisan tersebut agar tersingkap baginya rahasia. Kenali dirimu dengan merenungkan kedalam dirimu, niscaya engkau akan mengenali Tuhanmu tanpa huruf, tanpa suara, tanpa dalil dan tanpa perantara. Galillah rahasia alam dirimu sendiri sehingga berjumpa dengan air dari alam Malakut, alam Jabarut dan akhirnya Lahut, niscaya kamu akan dapat menyaksikan kembali bagaimana dirimu berhimpun dan bertasbih di alam Lahut serta menyaksikan bagaimana dirimu bersaksi akan diri KeTuhanan sebagaimana firmannya: “Adakah Aku Tuhan Kamu, (Ruh menjawab) Bahkan! Kami menyaksikan.” (QS. al-Araf:172)

Siapa yang sampai ke alam ini, ia mengambil ilmunya dari Allah tanpa perantara yaitu ilmu Laduni. Di alam ini, ia beribadah dari Allah, dengan Allah dan untuk Allah. Pandangannya senantiasa melihat pada dua alam, melihat diriNya di alam zahir yaitu Af’al,Sifat dan Asma, bermusyahadah dengan ZatNya di alam lahut. Adakala mereka itu fana (lebur) penglihatan di alam ini ketika mentajallikan rahasiaNya sehingga tiada yang dilihat melainkan Allah swt.

Bagaimana hendak Mengenal diri? Apa yang harus dikenali dengan diri ini? Adakah Mengenal Jasad yang di kenalioleh semua orang kafir dan mushrik agar dengan itu mereka bisa mengenal Robb mereka? Adakah mengenal Batin saja tanpa mengetahui soal Rohani? Mengenal diri tanpa mengenal jalan mengenal diri, anda tidak akan sampai pada kehendak? Mengenal Jalan tanpa mengenal musuh akan tewas di separuh jalan. Mengenal Musuh tanpa bersenjata akan dikalahkan.  Mempunyai senjata lengkap namun tidak mengenal maqam musuh akan menempuh kekalahan. Mengenal senjata dan musuh tetapi tidak ada tarbiyah dari orang yang mengenal perjalanan dan kaidah juga akan binasa dalam kesesatan.

Siapa yang benar mengenal dirinya, akan binasalah dirinya, tenggelamlah ia dalam lautan kefakiran, tenggelam ia dalam lautan ketiadaan ke-Aku-an. Didalam kitab Kasaful Asrar dinyatakan bahwa wujud insan adalah bayang-bayang kepada wujud Tuhan. Tiada akan wujud bayang-bayang ini jika tiada yang empunya bayang-bayang, tidak bergerak bayan-bayang melainkan bergeraknya tuan empunya bayang-bayang. Apabila kamu memandang diri kamu, memandang kewujudan dirimu, maka kamu wajib memahami bahwa kamu ada pemiliknya. Wujud kamu menyatakan wujud diri-Nya. Dia ghaib dan kamu nyata, Dia hakikat dan kamu syariat, Dia adalah wujud dan kamu adalah bayang bagi wujud-Nya.  Lihatlah diri kamu lagi, pandanglah segala sifat yang ada pada diri kamu, Lihatlah matamu, Lihatlah telingmu, Lihatlah mulutmu, Lihatlah akalmu, Lihatlah gerak diammu, lihat rasa hatimu. Semuanya tidak lain melainkan kenyataan sifat-sifat-Nya. Semoga hati kita tidak dibutakan sama sekali, sehingga tidak mengenal Diri-Nya, yang meskipun Al-Ghaib tetapi sangat dekat sekali, bahkan lebih dekat Dia bila dibandingkan dengan urat nadi yang ada di lehernya sendiri. Itu Berarti lebih dekat Dia meskipun dibandingkan dengan keluar masuknya nafas dalam dada.

Nb: Barang siapa yang hidupnya sekarang ini (di dunia) buta (mata hatinya tidak mengetahui keberadaan Diri Tuhannya yang dekat sekali dan Wajib Wujud-Nya), maka kelak di akhirat juga akan lebih buta dan lebih sesat jalannya.